Pages

Senin, 24 Desember 2012

Proses Pembelajaran IPA di SD

IPA merupakan ilmu yang mempelajari hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain  “penyelidikan, penyusunan dan pengajuan gagasan-gagasan”.
Proses pembelajaran IPA di SD mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun kontruksi kognitif dan psikomotorik siswa. Siswa di SD pada umumnya banyak mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran bidang studi IPA.
Kenyataan tersebut diatas pada umumnya seringkali dilatar belakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa untuk bidang studi IPA. Apabila permasalahan ini tidak segera diambil tindakan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan erat yaitu guru maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dalam mengikuti proses pembelajaran IPA.
Menurut Musno (2004 : 04) secara prinsip pengajaran sains merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali dikuasai oleh siswa karena berhubungan yang sangat penting dan perlu sekali dikuasai oleh siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu dalam pengertian yang luas.
Sejalan dengan kerangka berfikir seperti di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi IPA yang dalam proses pembelajarannya dengan angka-angka sebagai obyek pembelajarannya tidaklah jaih beda dengan bidang studi dan disiplin ilmu lain.
Hakikat IPA ada tiga yaitu IPA sebagai proses, produk, dan pengembangan sikap. Produk IPA berupa fakta, konsep, prinsip, teori, hukum, sedangkan proses IPA merupakan proses yang dilakukan oleh para ahli dalam menemukan produk IPA. Proses IPA di dalamnya terkandung cara kerja dan cara berpikir. Sikap yang dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sikap ilmiah yang antara lain terdiri atas obyektif, berhati terbuka, tidak mencampur adukkan fakta dan pendapat, bersifat hati-hati dan ingin tahu. Proses pembelajaran IPA harus mengacu pada hakikat IPA baik IPA sebagai produk, proses, dan pengembangan sikap.
Di samping itu, menurut permen 22  tahun 2005 menyatakan bahwa pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar  menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 
1.      Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
2.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3.      Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip  dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,  teknologi dan masyarakat
4.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
5.      Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
6.      Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
      Dari uraian di atas menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran IPA di SD di samping untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,  juga  mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Tujuan tersebut dicapai dengan cara mengajarkan IPA yang mengacu pada hakikat IPA dan menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa. Pembelajaran IPA harus berpusat pada siswa serta memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan ide atau gagasan, mendiskusikan ide atau gagasan dengan siswa lain serta membandingkan ide mereka dengan konsep ilmiah dan hasil pengamatan atau percobaan untuk merekontruksi ide atau gagasan yang akhirnya siswa menemukan sendiri apa yang dipelajari.
Selain melakukan kegiatan reflektif kepada siswa, guru juga bisa memilah-milah metode yang tepat yang kiranya dapat diterapkan pada siswa
Model Pembelajaran Terpadu
Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model yang bedang trend dilakukan dewasa ini. Berdasarkan sifat keterpaduannya pembelajaran terpadu dapat dibedakan menjadi tiga, yakni model dalam satu disiplin, model antar bidang, dan model dalam lintas siswa.Salah satu pembelajaran terpadu melibatkan konsep-konsep dalam satu bidang studi atau lintas bidang studi. Suatu pola belajar mengajar dalam model pembelajaran terpadu menggunakan payung untuk memadukan beberapa konsep IPA yang terkait menjadi satu paket pembelajaran sehingga pemisahan antar konsep tidak begitu jelas. Sifat model pembelajaran terpadu semacam itu termasuk model connected ( Fogarty, 1991: 55 ). Pelaksanaan pendekatan ini bertolak dari suatu topic atau tema sebagai payung untuk mengaitkan konsep-konsepnya. Tema sentral hendaknya diambil dari kehidupan sehari-hari yang menarik dan menantang kehidupan anak untuk memicu minat anak untuk belajar. Menurut Forarty tema sentral harus “fertile” dalam arti cakupannya luas dan memberi bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya,
Model pmbelajaran terpadu diartikan sebagai cara belajar mengajar yang menarik dan menantang kehidupan anak untuk memicu minat anak belajar.
      Langkah-Langkah Penyusunan Model Pembelajaran Terpadu
o   Mengkaji GBPP IPA untuk menganalisis konsep-konsep penting yang akan diajar.
o   Membuat bagan konsep yang menghubungkan konsep satu dengan konsep lannya
o   Memilih tema sentral yang dapat menjadi payung untuk memadukan konsep-konsep tersebut
o   Membuat TPK dan deskripsi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan ingkat perkembangan untuk setiap kondep.
o   Menyusun bahan bacaan berupa bacaan cerita yang mengacu pada tema, disertai gambar dan permainan.
o   Menyusun jadwal kegiatan dan alokasi waktu yang diperlukan secara proporsional.
o   Menyusun kisi-kisi perangkat tes dan soal tes.
Kebaikan dan Keterbatasannya
                    Dalam pembelajaran terpadu siswa diajak mengamati gejala alam seadanya, tidak dipilah-pilah menurut biologi atau fisika, juga tidak dibedakan hal-hal yang menyebabkan siswa melihatnya secara terkotak-kotak. Melalui pembelajaran siswa diajak untuk melakukan pengelompokan berdasarkan hal yang termati oleh mereka. Keterbatasannya jika konsepnya sudah kompleks, sulit dipadukan atau guru mengalami kesulitan untuk memadukannya.
Penerapan Model Pembelajaran Terpadu Terhadap Mata Pelajaran IPA
Dalam menyusun pembelajaran terpadu. IPA merupakan hasil kegiatan manusia berupa gagasan, pengetahuan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitarnya yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah seperti penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran siswa membangun pengatahuan berdasarkan pengamatan, pengalaman, penyusunan gagasan melalui suatu percobaan sangatlah penting. Dalam pengembangan pembelajaran terpadu siswa hendaknya dilibatkan kegiatan langsung pada objek nyata, karena akan membantu siswa untuk berpikir melalui pengalaman belajarnya.
Kehidupan anak tidak terlepas dari lingkungan tempat tinggal mereka. Pendekatan lingkungan dapat digunakan dalam pembelajaran, terutama pembelajaran IPA. Melalui model pembelajaran terpadu guru dapat melalui lingkungan, guru dapat mengajarkan tentang lingkungan dan guru dapat mengajar untuk kegiatan lingkungan. Melalui lingkungan yang dijadikan sarana dan sumber belajar hendaknya siswa lebih mencintai lingkungan sekitarnya.
Dengan kata lain pelajaran akan lebih mudah bila dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui atau dialami oleh siswa. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Nasution, belajar memberikan hasil yang sebaik-baiknya bila berdasarkan pada pengalaman pribadi atau interaksi, artinya aksi dan reaksi antara individualis dengan lingkungannya (Nasution, 1982;76).
Jadi melalui pengalaman, anak dapat menerima rangsangan-rangsangan dari luar yang beraksi terhadap perangsang yaitu ia mengamati, memikirkan, mengelolanya dan menentukan sikap dan kelakuannya terhadap pengaruh dari lingkungan itu.


0 komentar:

Poskan Komentar